27 Mei 2010

Taman Safari Indonesia I (TSI I) Di Cisarua - Bogor

Taman Safari Indonesia I (TSI I) atau biasa disebut Taman Safari Indonesia Cisarua adalah sebuah tempat rekreasi keluarga yang berwawasan lingkungan dan berorientasi pada habitat satwa di alam bebas. Obyek wisata Taman Safari Indonesia Cisarua adalah merupakan perpaduan antara kebun binatang modern dan wisata alam.
Taman Safari Indonesia I (TSI I) terletak di Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
Taman Safari Indonesia Cisarua berdiri pada tahun 1980 dengan menempati areal seluas 138,5 Ha dan resmi dibuka untuk umum pada tahun 1986. Taman ini didirikan diatas sebuah perkebunan teh yang sudah tidak produktif lagi, terletak pada ketinggian 900 m sampai 1.800 m diatas permukaan laut, suhu rata-rata 16 °C – 24 °C dan sekaligus menjadi penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Oleh Bapak Soesilo Soedarman, sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi pada masa itu, ditetapkanlah Taman Safari Indonesia di Cisarua sebagai Obyek Wisata Nasional.
Pada tanggal 16 Maret 1990, oleh Bapak Ir. Hasyrul Harahap, sebagai Menteri Kehutanan pada masa itu, diresmikanlah Taman Safari Indonesia di Cisarua menjadi Lembaga Konservasi Ex-situ dan Pusat Penangkaran Satwa Langka di Indonesia.
Taman Safari Indonesia Cisarua selain sebagai lokasi rekreasi, Taman Safari juga mempunyai beberapa fungsi, yaitu ikut aktif didalam membantu usaha perlindungan dan pelestarian populasi jenis satwa yang terancam punah karena kehilangan habitat. Selain itu berfungsi juga untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dengan melakukan berbagai penelitian untuk mendukung pelestarian satwa, serta melakukan kampanye, pendidikan dan penyuluhan mengenai konservasi.

Koleksi Satwa Taman Safari Indonesia I
Taman Safari memiliki koleksi satwa lebih dari 2.500 ekor, yang terdiri dari 250 species dan sebagian besar merupakan satwa langka.
Beberapa macam satwa langka antara lain : Harimau Sumatera ( panthera tigris sumatrae ), Gajah Sumatera ( elephas maximus sumatrae ), Curik Bali ( leucopsar rotsildi ), Anoa ( bubalus depressicornis ) dan berbagai jenis reptil.
Taman Safari Indonesia Cisarua memiliki koleksi satwa lokal maupun satwa dari luarnegeri. Satwa lokal, antara lain seperti : Komodo, Bison, Beruang Hitam Madu, Harimau Putih, Gajah, Anoa dan lain-lainnya.

Fasilitas Yang Tersedia Di Taman Safari Indonesia I
Tersedia : bus safari, kolam renang dengan seluncur ombak, danau buatan, kano, sepeda air, kereta api mini yang melintasi perkampungan ala Afrika, taman burung, baby zoo, kincir raksasa, kuda tunggang, gajah tunggang, komedi putar, pentas sirkus, area gocart, bom bom car, rumah setan, kesenian tradisional dan sulap di panggung terbuka Balai Ruyung Safari, animal education show, children's play ground, caravan & hotel, wild-wild west.
Di Taman Safari Cisarua terdapat juga air terjun.

Cara Mencapai Taman Safari Indonesia I
Dari Jakarta lebih kurang 80 Km. Dari Bandung sekitar 78 Km.
Jika dari Jakarta atau Bandung dengan menggunakan kendaraan umum seperti bus, berhenti di Cibeureum Cisarua, selanjutnya dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota dan butuh waktu ± 15 menit untuk sampai ke Taman Safari.

Jam Buka Taman Safari Indonesia I
Buka setiap hari, mulai jam 09.00 WIB - 17.00 WIB
Untuk Safari di malam hari (Safari Malam), buka mulai jam 19.00 WIB - 21.00 WIB

Indonesia sampai saat ini mempunyai beberapa lokasi Taman Safari, antara lain :
Taman Safari Indonesia I (Taman Safari Indonesia Cisarua)
Berlokasi di Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat, Pulau Jawa.

Taman Safari Indonesia II (Taman Safari Indonesia Prigen)
Berlokasi di lereng Gunung Arjuna, Desa Jatirejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Propinsi Jawa Timur, Pulau Jawa.

Taman Safari Indonesia III (Taman Safari Indonesia Gianyar)
Berlokasi di Desa Serongga, Kabupaten Gianyar, Propinsi Bali, Pulau Bali.

15 Mei 2010

Gedung Sate Gaya Arsitekturnya Unik

Gedung Sate adalah salah-satu ikon Kota Bandung, terletak di Jalan Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat, Pulau Jawa, Indonesia.
Gedung Sate mulai dibangun pada tahun 1920 sampai tahun 1924, selama pembangunannya gedung ini telah menghabiskan biaya sebesar Enam Juta Gulden dan Angka Enam dari angka biaya pembuatannya ini disimbolkan dengan ornamen enam biji sate tertusuk rapi yang berada dipuncak bubungan gedung pada menara sentralnya. Versi lain mengatakan bahwa ornamen tersebut adalah enam biji jambu air atau melati.
Pada tanggal 27 Juli 1920, pembangunan gedung ini diawali dengan peletakan batu pertama oleh Johanna Catherina Coops yaitu puteri sulung Walikota Bandung yaitu B. Coops dan Petronella Roelofsen mewakili Gubernur Jenderal di Batavia yaitu J.P. Graaf van Limburg Stirum. Gedung Sate ini dibangun oleh tim perencanaan yang terdiri dari Ir. J. Gerber sebagai arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo, Ir. G. Hendriks Petrus Berlage serta pihak Gemeente van Bandoeng, diketuai Kol. Pur. VL. Slors dengan melibatkan 2000 pekerja.
Dinding Gedung Sate terbuat dari kepingan batu ukuran besar yang berukuran 1×1×2 m yang diambil dari kawasan perbukitan batu di Bandung timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang. Pada bulan September 1924 berhasil diselesaikan pembangunan induk bangunan utama Gouvernements Bedrijven (GB), termasuk kantor pusat PTT (Pos, Telekomunikasi dan Telegraf) dan Perpustakaan.
Pada masa Hindia Belanda, Gedung Sate disebut Gouvernements Bedrijven (GB) atau Government Companies. Gedung Sate yang dibangun, semula dipersiapkan sebagai pusat kegiatan pemerintahan kolonial Belanda setelah Batavia dianggap tidak memenuhi syarat lagi sebagai pusat pemerintahan.
Gedung Sate masih tetap berdiri kokoh dan anggun dan kini berfungsi sebagai Gedung Pusat Pemerintahan Jawa Barat. Sejak tahun 1980, Gedung Sate dikenal dengan sebutan Kantor Gubernur karena sebagai pusat kegiatan Pemerintah Propinsi Jawa Barat, yang sebelumnya Pemerintahaan Propinsi Jawa Barat menempati Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga, Bandung.

Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m². Luas bangunan 10.877,734 m² yang terdiri dari Basement dengan luas 3.039,264 m², Lantai I dengan luas 4.062,553 m², Teras lantai I dengan luas 212,976 m², Lantai II dengan luas 3.023,796 m², Teras lantai II dengan luas 212,976 m², Menara 121 m² dan Teras Menara 205,169 m².
Gedung Sate mempunyai fasade (tampak depan) yang sengaja dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara.

Gaya Arsitektur Gedung Sate
Gedung Sate memiliki gaya arsitektur yang unik, dibangun dengan perpaduan beberapa gaya, seperti bangunannya dengan gaya masa Renaissance Italia, jendela dengan gaya bangsa Moor Spanyol, menara dengan gaya atap pura Bali atau pagoda di Thailand, dipuncak bubungan gedung terdapat ornamen enam biji sate yang melambangkan 6 juta gulden yaitu jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate. Gedung Sate memiliki lift dan 6 tangga kayu, masing-masing tangga memiliki 10 anak tangga.
Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa (Indo Europeeschen architectuur stijl).

Daya Tarik Gedung Sate
Gedung Sate adalah salah-satu tujuan obyek wisata di kota Bandung, banyak wisatawan lokal maupun dari luar negeri yang datang ke Gedung Sate. Ada juga wisatawan mancanegara datang berwisata ke obyek wisata Gedung Sate karena mereka merasa memiliki keterkaitan/ kedekatan emosi dan histori dengan Gedung ini.
Gedung Sate dilengkapi dengan taman disekelilingnya sehingga semakin menambah keindahan Gedung Sate.
Keindahan taman ini sering dijadikan sebagai tempat untuk rekreasi keluarga, lokasi untuk foto keluarga, foto pasangan pengantin, lokasi shooting video klip musik oleh artis lokal dan ibukota. Pada hari minggu, lingkungan halaman Gedung Sate oleh sebagian masyarakat digunakan sebagai tempat untuk berolahraga dan bersantai sambil menikmati udara segar Kota Bandung.